Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump memberlakukan tarif impor pada mitra dagang AS di seluruh dunia. Kebijakan itu menjadi serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil.
Trump mengatakan dirinya akan menerapkan tarif minimum 10% pada semua eksportir ke AS dan mengenakan bea masuk tambahan pada sekitar 60 negara dengan ketidakseimbangan perdagangan atau defisit neraca perdagangan terbesar dengan AS.
“Selama bertahun-tahun, warga negara Amerika yang bekerja keras dipaksa untuk duduk di pinggir lapangan ketika negara-negara lain menjadi kaya dan berkuasa, sebagian besar dengan mengorbankan kita. Namun kini giliran kita untuk makmur,” kata Trump dalam sebuah acara di Rose Garden, Gedung Putih pada Rabu (2/4/2025) waktu setempat dilansir dari Bloomberg.
Tarif timbal balik atau “resiprokal” yang lebih tinggi yang menargetkan negara-negara yang oleh pemerintahan Trump dicap sebagai pelanggar terburuk didasarkan pada penghitungan pemerintah atas pungutan dan hambatan non-tarif yang diberlakukan oleh negara-negara tersebut terhadap barang asal AS.
Di bawah rencana Trump, negara-negara yang menghadapi tarif yang lebih tinggi dan disesuaikan akan dikenakan pungutan sebesar setengah dari jumlah yang dihitung.
Pajak impor dasar akan berlaku mulai Sabtu (5/4/2025) dini malam dan bea masuk yang lebih tinggi akan mulai berlaku pada Rabu pekan depan atau 9 April 2025 pukul 12:01, menurut sumber pejabat administrasi senior yang membahas rencana tersebut.
Baca Juga
Seperti diketahui, Kanada dan Meksiko sudah menghadapi tarif 25% yang terkait dengan perdagangan narkoba dan migrasi ilegal. Tarif tersebut akan tetap berlaku dan dua mitra dagang terbesar AS tersebut tidak akan terkena rezim tarif baru selama tarif terpisah masih berlaku.
Pengecualian untuk barang-barang yang tercakup dalam perjanjian perdagangan Amerika Utara yang ditengahi oleh Trump pada masa jabatan pertamanya akan tetap ada.
China akan dikenakan tarif sebesar 34%. Sementara Uni Eropa akan dikenakan pungutan 20% dan Vietnam akan dikenakan tarif 46%, menurut dokumen Gedung Putih.
Negara-negara lain yang akan dikenakan tarif impor Trump yang lebih besar termasuk Jepang sebesar 24%, Korea Selatan sebesar 25%, India sebesar 26%, Kamboja sebesar 49%, dan Taiwan sebesar 32%.
“Ini bukan timbal balik penuh. Ini adalah timbal balik yang baik,” kata Trump.
Mary Lovely, seorang peneliti senior di Peterson Institute for International Economics, mengatakan bahwa besaran tarif yang diumumkan Trump jauh lebih buruk daripada yang ditakutkan dunia.
"Bagaimana tarif-tarif ini akan diterapkan masih belum jelas dan ada implikasi-implikasi besar untuk pengalihan rute perdagangan secara global," ujar Mary.
Adapun, Trump mengindikasikan bahwa ia akan mempertimbangkan untuk menurunkan tarif jika negara-negara lain menghapus hambatan perdagangan (barriers) mereka terhadap produk ekspor AS.
“Saya katakan hentikan tarif Anda sendiri. Hilangkan hambatan Anda, jangan memanipulasi mata uang Anda,” kata Trump.
Trump mendeklarasikan keadaan darurat nasional terkait dengan defisit perdagangan AS, yang mencapai lebih dari US$918 miliar untuk barang dan jasa pada 2024, yang memungkinkannya untuk menggunakan otoritas sepihak di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional untuk memberlakukan serangkaian tarif yang paling luas dalam beberapa generasi.
Dia bertujuan untuk menghidupkan kembali manufaktur Amerika dengan pergeseran proteksionis dan mengumpulkan ratusan miliar dolar pendapatan dari pungutan baru untuk mengisi pundi-pundi pemerintah.
Langkah kontroversial yang diambil Trump merupakan 'pertaruhan' bersejarah yang diperkirakan akan meningkatkan biaya triliunan dolar barang yang dikirim setiap tahun ke AS dari negara lain.
Hal ini juga dapat memicu perang dagang di seluruh dunia, yang ditandai dengan aksi saling balas yang mengacaukan rantai pasokan, memicu inflasi, mendorong rival-rival ekonomi Amerika, dan mendorong kekuatan-kekuatan asing untuk membentuk aliansi-aliansi baru yang tidak melibatkan AS.
Dinamika tersebut menghadirkan masalah politik bagi Trump: kerugian ekonomi akibat tarif dapat terjadi dengan cepat, sementara keuntungan apapun dalam bentuk restrukturisasi ekonomi AS dapat memakan waktu bertahun-tahun atau lebih lama untuk terwujud.