Bisnis.com, LOMBOK — Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman mengungkapkan jurus mendorong program transmigrasi dengan strategi 'ada gula, ada semut'.
Dia menjelaskan, salah satu tantangan dari program transmigrasi adalah mengubah persepsi masyarakat. Menurutnya, masyarakat pada umumnya sudah terlanjur memahami transmigrasi itu hanya memindahkan orang dari Jawa ke luar Pulau Jawa.
"Memindahkan orang dari tempat yang padat ke tempat yang jarang. Memindahkan kemiskinan. Bahkan lebih parah lagi memindahkan masalah. Inilah persepsi yang sudah terlanjur terbentuk di masyarakat," tutur Iftitah dalam Rapat Koordinasi Teknis Pembangunan Kawasan Transmigrasi 2025 di Lombok, NTB, Jumat (29/8/2025).
Iftitah pun menyebut, tujuan transmigrasi bukanlah seperti itu. Oleh karena itu, dia memiliki strategi khusus untuk mendorong transmigrasi, yakni 'ada gula, ada semut'.
Menurutnya, transmigrasi bukan sekadar pemindahan penduduk, tetapi membangun kawasan ekonomi terintegrasi.
Selain itu, transmigrasi bukan lagi soal distribusi penduduk, tetapi distribusi kesejahteraan, pembangunan inklusif berkelanjutan, dan distribusi sumber daya manusia (SDM) unggul.
Baca Juga
"Strateginya adalah 'ada gula, ada semut'. Jadi kita harus membentuk gula-gulanya ini di kawasan transmigrasi," ucap Iftitah.
Dia pun menyebut, dengan menciptakan kawasan ekonomi yang produktif, migrasi penduduk dengan skala besar, akan berjalan secara alamiah, sukarela, dan mandiri tanpa investasi dan bantuan dana pemerintah.
"Faktanya program transmigrasi di masa lalu ada yang 250 KK [Kartu Keluarga] ditempatkan tinggal 1 KK lagi. 249 kembali ke daerahnya masing-masing. Tentu kita tidak ingin itu terjadi di masa kini dan masa mendatang," imbuh Iftitah.
Lebih lanjut, Iftitah juga menyebut pihaknya memiliki lima program unggulan transmigrasi, termasuk Trans Tuntas yang merupakan program legalisasi tanah transmigrasi.
Selain itu, program Trans Lokal yakni pembangunan rumah, jalan, jembatan, dan fasilitas umum. Kemudian, Trans Patriot yang merupakan pendampingan dan beasiswa bagi SDM transmigrasi.
Lalu, Trans Karya Nusa yang merupakan program pengembangan ekonomi lokal dan industri kecil. Terakhir, yakni Trans Gotong Royong merupakan kolaborasi lintas sektor untuk kawasan ekonomi transmigrasi.