Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengusaha AS Ragu Tarif Trump Kerek Industri

Kebijakan Presiden AS Donald Trump mengerek tarif impor disikapi skeptis para pengusaha.
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA- Kebijakan tarif impor tinggi yang digulirkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mayoritas disikapi skeptis para industriawan di negeri tersebut. Para ekonom pun menilai kebijakan tersebut akan lebih menyulitkan AS untuk mengejar ketertinggalan manufaktur dari para pesaing.

Dikutip dari Bloomberg, pada Sabtu (6/4/2025), lewat kebijakannya, Presiden Donald Trump telah berjanji akan menghidupkan kembali manufaktur dalam negeri. Namun, kekhawatiran industri tentang pendekatannya menimbulkan keraguan baru tentang upaya untuk meningkatkan ekonomi.

Beberapa pendukung dan ekonom manufaktur mempertanyakan logika dasar Trump, dengan mengatakan masalah rantai pasokan, biaya tinggi, kebutuhan tenaga kerja, dan proses yang melelahkan untuk memindahkan produksi ke AS.

Mereka juga melontarkan alasan bahwa terdapat ketidakpastian yang berkelanjutan tentang kebijakan jangka panjang Trump yang memberikan efek mengerikan.

 Jika tarif tidak cukup untuk meyakinkan perusahaan untuk memindahkan operasi ke AS, itu bisa berarti warga Amerika menanggung beban berat dari malapetaka ekonomi yang ditimbulkan.

Bahkan hal itu bisa meningkatkan risiko politik bagi Trump dan rekan-rekannya dari Partai Republik.

“Meskipun kami tentu setuju bahwa kami harus secara agresif mengejar kebijakan apa pun yang membantu kami membuat sesuatu di Amerika, gagasan bahwa Anda dapat memindahkan setiap bagian dari proses manufaktur kembali ke AS tidak sejalan dengan kenyataan,” kata Kip Eideberg, wakil Presiden Senior Asosiasi Produsen Peralatan Manufaktur.

Eideberg, yang kelompoknya mewakili pembuat peralatan yang digunakan dalam konstruksi, pertanian, pertambangan, utilitas, dan kehutanan, menambahkan bahwa dengan bisnis yang bergantung pada komponen dan tenaga kerja dari seluruh dunia, AS bakal menghadapi kesulitan.

“Anda tidak bisa begitu saja mengambil semua itu dan memindahkannya ke AS,” singgung Eiderberg.

Para ekonom mengatakan perusahaan tidak akan berkomitmen untuk meluangkan waktu dan investasi yang diperlukan untuk memindahkan produksi ke AS jika mereka tidak menganggap tarif tersebut bersifat permanen.

Sebaliknya, mereka menilai  Trump bimbang antara mengatakan kebijakannya tidak akan pernah berubah, tetapi terbuka untuk negosiasi.

"Kami tetap sangat skeptis bahwa tarif akan memicu gelombang besar reshoring [pemindahan kembali produksi], mengingat penghematan biaya tenaga kerja yang besar yang tersedia dengan memproduksi barang di luar negeri, serta ketidakpastian tentang berapa lama kebijakan proteksionis akan berlangsung," kata Samuel Tombs, Kepala Ekonom AS di Pantheon Macroeconomics, dalam sebuah catatan.

Sementara itu, Gedung Putih menepis kritik tersebut. Penasihat kebijakan utama Trump, Stephen Miller, menyatakan di Fox News bahwa "perubahan dalam teknologi manufaktur canggih, pencetakan 3-D, robotika, kecerdasan buatan membuatnya semakin terjangkau untuk diproduksi, diproduksi, dan dibangun dalam skala besar di Amerika Serikat."

Sebuah jajak pendapat CBS yang dirilis sebelum pengumuman tarif menunjukkan bahwa 55% orang Amerika menganggap bahwa pemerintahan Trump terlalu fokus pada tarif dan 64% menganggap mereka tidak cukup fokus untuk menurunkan harga.

Jajak pendapat itu juga menunjukkan bahwa hanya 23% yang menganggap bahwa kebijakan keuangan Trump membuat mereka lebih baik secara finansial. Dampaknya langsung terasa bagi para produsen setelah Trump meluncurkan rencananya.

Pungutan pajak naik hingga 46% di Vietnam, lokasi penting bagi Apple Inc. dan Nike Inc. Kamboja, tempat Abercrombie & Fitch Co. memperoleh sekitar seperlima dari barang dagangannya, dikenakan tarif sebesar 49%. Indonesia, tempat Panasonic Holdings Corp. Jepang beroperasi, dikenakan tarif sebesar 32%.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Kahfi
Editor : Kahfi
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper