Bisnis.com, JAKARTA – Produsen minyak raksasa Rusiamenghadapi tekanan besar pada paruh pertama 2025, ketika harga minyak global yang lebih rendah dan penguatan tajam rubel memangkas tajam keuntungan mereka.
Dikutip Bloomberg pada Minggu (31/8/2025), perusahaan minyak raksasa Rusia mengalami pukulan besar pada paruh pertama 2025, ketika harga minyak mentah global melemah dan rubel menguat tajam. Kondisi ini memangkas laba mereka secara drastis, menambah tekanan di tengah sanksi Barat yang masih berlangsung dan ancaman kelebihan pasokan dunia.
Rosneft PJSC, produsen minyak terbesar Rusia yang dikendalikan negara dengan kontribusi lebih dari sepertiga produksi nasional, melaporkan laba bersih 245 miliar rubel atau sekitar US$3 miliar pada semester I/2025.
Angka itu merosot lebih dari 68% dibandingkan tahun lalu. Direktur Utama Rosneft Igor Sechin menegaskan paruh pertama tahun ini ditandai dengan harga minyak yang lebih rendah, terutama akibat kelebihan produksi.
“Selain itu, terjadi perluasan diskon pada minyak Rusia karena pengetatan sanksi Uni Eropa dan AS, serta penguatan signifikan nilai tukar rubel yang berdampak negatif pada hasil keuangan semua eksportir," katanya.
Tekanan serupa dialami pesaingnya. Lukoil PJSC dan Gazprom Neft PJSC sama-sama membukukan penurunan laba lebih dari 50% secara tahunan, sementara Tatneft PJSC anjlok 62%.
Baca Juga
Situasi ini juga mencerminkan tren global ketika raksasa migas dunia kehilangan margin akibat harga minyak mentah jatuh. OPEC+ menambah pasokan lebih cepat dari perkiraan, sedangkan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Harga rata-rata minyak Urals, komoditas ekspor utama Rusia, hanya US$58 per barel pada semester I, turun lebih dari 13% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam periode yang sama, rubel terapresiasi hampir 23% menjadi 78,46 per dolar AS pada 30 Juni, didorong suku bunga acuan yang tetap tinggi. Kondisi ini membuat produsen memperoleh lebih sedikit rubel dari setiap barel yang dijual.
Bank Sentral Rusia memangkas suku bunga 300 basis poin sepanjang Juni–Juli, tetapi Sechin menilai langkah itu belum memadai.
“Salah satu konsekuensi mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi terlalu lama adalah apresiasi rubel yang berlebihan. Hal ini menyebabkan kerugian bagi anggaran Rusia maupun perusahaan eksportir,” ujarnya.
Di samping itu, suku bunga acuan yang belum berubah juga meningkatkan biaya layanan utang, melemahkan stabilitas keuangan korporasi, serta menggerus potensi investasi.