Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkap realisasi investasi dari sektor hotel dan restoran masih rendah.
Deputi Bidang Pelayanan Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Iwan Suryana mengutip data 2024 menyampaikan, dari sisi penanaman modal dalam negeri (PMDN), realisasi investasi dari hotel dan restoran berada di peringkat ke-13.
“Kalau kita lihat dari kontribusi hotel dan restoran itu investasinya sebesar Rp24,14 triliun pada 2024,” kata Iwan dalam diskusi panel Musyawarah Nasional (Munas) XVIII PHRI Tahun 2025, Selasa (11/2/2025).
Kemudian untuk penanaman modal asing (PMA), kontribusi dari hotel dan restoran menempati posisi 16 dengan nilai investasi mencapai Rp14 triliun pada 2024.
Melihat data tersebut, menurutnya kontribusi industri hotel dan restoran perlu ditingkatkan lagi, baik dari sisi PMDN maupun PMA.
“Kontribusi dari hotel dan restoran ini masih perlu ditingkatkan lagi karena masih berada di luar 10 besar,” ujarnya.
Baca Juga
Namun, dia menyadari bahwa tidak mudah untuk meningkatkan realisasi investasi dari sektor hotel dan restoran. Apalagi, kata dia, industri pariwisata memiliki karakter yang berbeda dengan industri-industri lainnya.
Dalam hal ini, Iwan menyebut bahwa perkembangan industri pariwisata hampir melibatkan seluruh sektor yang mendukung kegiatan pariwisata seperti akomodasi, transportasi, hingga infrastruktur.
“Artinya berkembangnya sektor pariwisata tergantung berkembangnya juga industri-industri lain,” ucapnya.
Adapun, realisasi investasi 2024 mencapai Rp1.714,2 triliun, atau melampaui target yang diberikan sebesar Rp1.650 triliun, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2,45 juta orang.
Dari total tersebut, realisasi investasi di Indonesia didominasi oleh PMA yakni sekitar 52,5% atau setara dengan Rp900,2 triliun sedangkan PMDN sebesar 7,5%.
Penyebaran investasi di luar Pulau Jawa juga telah melampaui capaian di Pulau Jawa, berkat adanya pembangunan infrastruktur secara masif oleh pemerintahan sebelumnya.
“Ini berkat pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya, infrastruktur di luar Pulau Jawa dilakukan secara masif sehingga berakibat tumbuhnya investasi di luar Pulau Jawa melebihi yang ada di Pulau Jawa,” pungkasnya.