Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Survei BSI: Konsumsi Masyarakat Diproyeksi Turun usai Lebaran 2025

Survei terbaru BSI Institute menunjukkan konsumsi masyarakat akan berkurang usai momen Ramadan dan Lebaran 2025. Berikut penjelasannya.
Pengunjung memilih produk makanan dan minuman (mamin) di salah satu pusat perbelanjaan  di Jakarta, Senin (30/1/223)/JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pengunjung memilih produk makanan dan minuman (mamin) di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, Senin (30/1/223)/JIBI/Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Survei terbaru BSI Institute menunjukkan konsumsi masyarakat akan berkurang usai momen Ramadan dan Lebaran 2025. Masalahnya, penurunan konsumsi sendiri kerap berdampak ke pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Survei Bank Syariah Indonesia (BSI) Institute menanyakan kepada responden, apakah pengeluaran mereka berkurang setelah Idulfitri. Hasilnya, mayoritas (78,16%) menyatakan berkurang.

Padahal, dalam survei yang sama, 64,75% responden mengaku menambah pengeluaran untuk bulan Ramadan dengan mayoritas alokasi tambahan sebesar Rp1 juta sampai dengan Rp3 juta.

"Setelah hari besar ini berakhir, terdapat perubahan perilaku individu untuk kegiatan konsumsinya di mana mereka mengurangi pengeluarannya," ujar Peneliti Senior BSI Institute Priyesta Rizkiningsih dalam laporan BSI Institute Quarterly Volume I 2025, dikutip Senin (31/3/2025).

Ternyata, para responden mulai mempersiapkan kembali penambahan pengeluarannya selama untuk Ramadan tahun berikutnya. Paling banyak mengaku mempersiapkan satu bulan sebelumnya (43,74%), namun juga terdapat responden yang sudah mulai mempersiapkannya sejak satu tahun sebelumnya (16,65%).

Oleh sebab itu, mayoritas memilih menabung (70,3%) untuk mempersiapkan tambahan keuangan demi Ramadan dan Lebaran tahun berikutnya. Ada juga yang memilih berinvestasi (14,79%) dan membuka usaha (11,56%).

Sebagai informasi, survei BSI Institute ini dilakukan terhadap 3.029 responden individual yang tersebar di sepuluh wilayah di Indonesia yaitu, Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat.

Dampak Ekonomi

Penurunan pengeluaran berarti penurunan konsumsi. Masalahnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung kepada kontribusi konsumsi rumah tangga.

Selama tahun lalu misalnya, konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang utama pembentuk produk domestik bruto (PDB) yaitu hingga 54,04%. Secara kuartalan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tinggi juga sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Contohnya, pertumbuhan tertinggi konsumsi rumah tangga pada tahun lalu terjadi pada kuartal II/2024 yaitu sebesar 4,93% year on year (YoY). Sejalan, pertumbuhan ekonomi tertinggi pada tahun lalu juga terjadi pada kuartal II/2024 yaitu sebesar 5,05% YoY.

Pola serupa juga terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, tak heran apabila pemerintah ingin memaksimalkan pertumbuhan ekonomi pada momen Lebaran ini yang masuk ke dalam periode kuartal I/2025.

Bahkan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sampai mengumpulkan sejumlah menteri dan wakil menteri untuk membahas pertumbuhan ekonomi kuartal I/2025 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat pada Kamis (27/2/2025).

Rapat koordinasi terbatas (Rakortas) itu dihadiri Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, hingga Wakil Menteri Perindustrian Faisol Reza.

Dalam rapat yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, para pejabat negara itu membahas seputar persiapan menghadapi Lebaran dan akselerasi pertumbuhan ekonomi kuartal I/2025.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Morgiarso menjelaskan pemerintah akan mendorong pertumbuhan pada Maret yang menjadi momen Ramadan.

"Insya Allah mudah-mudahan masih bisa [tercapai pertumbuhan 5% pada kuartal I/2025]," ujar Susi di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2025).

Dia meyakini daya beli masyarakat akan terdongkrak pada Maret karena THR akan cair. Sejalan dengan itu, sambungnya, pemerintah juga memberi insentif fiskal.

Susi mencontohkan bahwa pemerintah akan memberikan diskon tiket pesawat dan tarif tol menjelang mudik Lebaran. Selain itu, akan ada program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) edisi Ramadan.

"Kita keroyok bareng-bareng sih. Mudah-mudahan semua program efektif sehingga ngangkat di kuartal I-nya, karena psikologisnya penting di kuartal I," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper