Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Fed Wanti-wanti Dampak Tarif Trump Terhadap Inflasi dan Konsumsi

Tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat meningkatkan inflasi dan pengangguran.
Gedung kantor Federal Reserve (The Fed) di Washington, Amerika Serikat pada Rabu (26/1/2022). / Reuters-Joshua Roberts
Gedung kantor Federal Reserve (The Fed) di Washington, Amerika Serikat pada Rabu (26/1/2022). / Reuters-Joshua Roberts

Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) menyebut kebijakan tarif yang dilakukan Preside Donald Trump akan berdampak pada kenaikan inflasi dan perlambatan konsumsi.

Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin mengatakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dapat meningkatkan inflasi dan pengangguran. Hal tersebut dapat menciptakan tantangan besar bagi bank sentral AS tersebut.

Barkin mengatakan guncangan harga akibat tarif dapat mengakibatkan persaingan sengit antara konsumen yang frustrasi karena tidak ingin membayar lebih dan penyedia barang dan jasa yang benar-benar yakin bahwa mereka harus meneruskan kenaikan tarif.

"Akan sangat menarik untuk melihat ke mana arahnya. Jelas sebagian dari itu akan memengaruhi harga sehingga akan menjadi inflasi," kata Barkin dalam diskusi yang dimoderatori di New York di Council on Foreign Relations dikutip dari Bloomberg, Rabu (2/4/2025).

Namun, kepala Fed Richmond juga memperingatkan bahwa sebagian dampaknya akan terasa di pasar tenaga kerja. Harga yang lebih tinggi kemungkinan akan menurunkan permintaan, sehingga mengurangi penjualan, katanya.

"Jika Anda adalah perusahaan yang tidak dapat menaikkan harga, maka margin Anda akan turun. Anda akan mulai bekerja pada efisiensi operasional, dan itu berarti jumlah karyawan berkurang," kata Barkin.

Barkin menekankan ketidakpastian sangat tinggi atas kebijakan apa yang akan benar-benar dilaksanakan. Trump akan mengumumkan kebijakan tarif timbal balik di sebuah acara di Gedung Putih pada Rabu waktu setempat.

Hal senada diungkapkan oleh rekan Barkin, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams. Williams menyebut ada risiko inflasi yang lebih tinggi tahun ini akibat dampak kebijakan tarif Trump. 

Meski demikian, Williams berpandangan bahwa tingkat inflasi akan tetap relatif stabil.

"Anda melihat pandangan yang sangat luas di antara para peserta komite bahwa ada risiko kenaikan pada prospek inflasi. Itu sepenuhnya konsisten dengan cara saya melihatnya secara pribadi," ucap Williams mengacu pada proyeksi ekonomi terbaru bank sentral.

Menurutnya, terdapat risiko kenaikan yang sangat bergantung pada tarif dan kebijakan lain. 

Williams mengatakan belum jelas dampak tarif Presiden Donald Trump terhadap ekonomi, menggarisbawahi bahwa bank sentral akan mengawasi data yang masuk — khususnya harga dan aktivitas di industri yang terkena dampak.

Dia menilai efek tidak langsung bisa memakan waktu bertahun-tahun untuk terwujud. Di sisi lain, dia menolak berkomentar tentang waktu pemotongan suku bunga di masa mendatang.

Williams mengatakan ketidakpastian tentang kebijakan pemerintahan Trump ini akan memengaruhi perilaku beberapa konsumen dan bisnis. 

Namun demikian, ekonomi AS tetap dalam kondisi baik dan menegaskan bahwa AS tidak mengalami stagflasi saat ini.

"Saya merasa kebijakan moneter cukup ketat," kata Williams, seraya menambahkan bank sentral dapat mempertahankan sikap itu untuk beberapa waktu.

Dia memperkirakan pertumbuhan akan melambat pada tahun 2025. Williams sebelumnya mengatakan bahwa hal itu sebagian disebabkan oleh perlambatan arus imigrasi.

DAMPAK TARIF PADA KONSUMSI 

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee memperingatkan konsekuensi negatif dari setiap perlambatan dalam belanja konsumen atau investasi bisnis karena ketidakpastian terkait tarif. 

"Jika konsumen berhenti belanja atau bisnis berhenti berinvestasi karena mereka tidak yakin atau mereka takut ke mana kita akan menuju, itu akan menjadi sedikit kacau," ucapnya. 

Goolsbee mencatat bahwa, secara teori, tarif satu kali seharusnya memiliki dampak sementara pada harga, tetapi menambahkan bahwa tarif tersebut mungkin memiliki dampak yang lebih lama. 

Hal tersebut dapat didorong oleh tarif balasan dan fakta bahwa beberapa pungutan dapat dikenakan pada barang setengah jadi, seperti komponen dan suku cadang yang berakhir pada barang yang diproduksi di dalam negeri. 

Kepala Fed Chicago itu memperkirakan suku bunga akan turun selama 12 hingga 18 bulan ke depan. Goolsbee mengatakan data konkret masih menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS yang solid, bahkan ketika ukuran survei konsumen dan bisnis melemah.

“Anda telah melihat angka-angka sentimen, kepercayaan, dan bisnis serta konsumen hampir anjlok,” tutur Goolsbee.

Pejabat Fed tidak mengubah suku bunga untuk pertemuan kedua berturut-turut ketika mereka bertemu pada bulan Maret, setelah pemotongan satu poin persentase penuh pada akhir tahun lalu.

Ketua Fed Jerome Powell dalam konferensi pers setelah pertemuan tersebu, mengatakan dampak inflasi dari tarif kemungkinan akan bersifat sementara, yang menandakan para pejabat dapat melihat dampak harga.

Penggunaan kata sementara oleh Powell mengejutkan banyak pengamat Fed karena hal itu menghidupkan kembali istilah yang digunakan pejabat bank sentral sepanjang tahun 2021 untuk menggambarkan dampak pandemi terhadap tekanan harga. Dalam hal itu, Powell dan yang lainnya pada akhirnya terbukti salah besar.

Ketidakpastian yang meningkat seputar kebijakan tarif Presiden Donald Trump sejauh ini telah mendorong konsumen dan bisnis untuk lebih berhati-hati.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper