Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Alasan Presiden Trump Kenakan Tarif Baru ke Negara Mitra Dagang

Presiden Donald Trump mengklaim kebijakan tarif perdagangan pada periode pertamanya sukses dalam menciptakan AS sebagai pusat manufaktur.
Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington./Bloomberg-Al Drago
Presiden AS Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih di Washington./Bloomberg-Al Drago

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump resmi menerbitkan aturan terkait tarif impor bea masuk perdagangan. Sejumlah negara mitra dagang yang memiliki pangsa pasar di AS bakal terkena imbas dari kebijakan baru tersebut.

Dalam keterangan resmi yang dikutip dari White House, Kamis (3/4/2025), Presiden Trump menegaskan ada sejumlah hal yang melatarbelakangi kebijakan AS tersebut mulai dari kurangnya timbal balik dalam hubungan perdagangan bilateral antara AS dengan negara-negara mitra, tingkat tarif dan hambatan nontarif di negara-negara mitra yang berbeda, dan kebijakan ekonomi mitra dagang AS yang menekan upah dan konsumsi dalam negeri.

“Sebagaimana ditunjukkan oleh defisit perdagangan barang AS tahunan yang besar dan terus-menerus, merupakan ancaman yang tidak biasa dan luar biasa bagi keamanan nasional dan ekonomi AS,” bunyi keterangan dari Gedung Putih yang ditandatangani oleh Presiden Trump.

Ancaman tersebut bersumber seluruhnya atau sebagian besar dari luar AS dalam kebijakan ekonomi domestik mitra dagang utama dan ketidakseimbangan struktural dalam sistem perdagangan global.

“Dengan ini, saya nyatakan keadaan darurat nasional sehubungan dengan ancaman ini,” kata Trump.

Presiden Trump menegaskan sejak dirinya dilantik pada 20 Januari 2025, telah menandatangani Memorandum Presiden Kebijakan Perdagangan America First yang mengarahkan pemerintahannya untuk menyelidiki penyebab defisit perdagangan barang tahunan, termasuk implikasi, dan risiko ekonomi dan keamanan nasional yang diakibatkan oleh defisit tersebut.

Selanjutnya pada pada 13 Februari 2025, Presiden Trump kembali menandatangani Memorandum Presiden yang berjudul “Perdagangan Timbal Balik dan Tarif,” yang mengarahkan peninjauan lebih lanjut terhadap praktik perdagangan nontimbal balik dengan mitra dagang dan mencatat hubungan antara praktik nontimbal balik dan defisit perdagangan.

“Pada 1 April 2025, saya menerima hasil akhir dari investigasi tersebut, dan saya mengambil tindakan hari ini berdasarkan hasil tersebut,” kata Trump.

Mengembalikan Kejayaan Amerika Serikat

Presiden Trump juga menyatakan kebijakan tarif tersebut pernah diterapkan saat dirinya menjadi Presiden AS periode 2016—2020. Bahkan, dia mengklaim kebijakan tersebut berhasil untuk mengembalikan AS sebagai basis manufaktur global.

“Terlepas dari retorika dari politisi dan media, penelitian telah berulang kali menunjukkan tarif adalah alat yang efektif untuk mencapai tujuan ekonomi dan strategis, seperti yang terjadi pada masa jabatan pertama Presiden Trump,” tulis Gedung Putih.

Dalam studi yang dirilis pada 2024 tentang dampak tarif Presiden Trump dalam masa jabatan pertamanya menemukan bahwa tarif tersebut berhasil memperkuat ekonomi AS dan mengakibatkan terjadinya reshoring yang signifikan dalam industri seperti manufaktur dan produksi baja.

Kemudian pada 2023, Komisi Perdagangan Internasional AS — yang menganalisis dampak tarif Pasal 232 dan 301 Presiden Trump terhadap impor AS senilai lebih dari US$300 miliar— menemukan bahwa kebijakan tarif mampu mengurangi impor dari China, secara efektif merangsang lebih banyak produksi AS atas barang-barang yang terkena dampak, dan memiliki dampak yang sangat kecil pada harga hilir.

Sementara itu, menurut Economic Policy Institute, tarif yang diterapkan Presiden Trump selama masa jabatan pertamanya tidak ada korelasinya dengan inflasi dan hanya memberikan dampak sementara pada harga keseluruhan.

Dalam laporannya itu, setelah penerapan langkah-langkah Pasal 232 pada 2018—dan sebelum krisis global pada 2020—produksi baja AS, lapangan kerja, investasi modal, dan kinerja keuangan semuanya membaik.

Secara khusus, produsen baja AS mengumumkan rencana untuk menanamkan investasi lebih dari US$15,7 miliar dalam fasilitas baja baru atau yang ditingkatkan, yang menciptakan sedikitnya 3.200 lapangan kerja baru secara langsung, yang banyak di antaranya siap untuk mulai beroperasi.

Analisis ekonomi pada 2024 menemukan bahwa tarif global sebesar 10% akan menumbuhkan ekonomi sebesar US$728 miliar, menciptakan 2,8 juta pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan rumah tangga riil sebesar 5,7%.

Tarif baja masa jabatan pertama Presiden Trump menyebabkan terciptanya ribuan lapangan pekerjaan di industri logam, disertai kenaikan upah.

Bahkan, Trump menuding sejumlah media menyusun laporan yang salah dalam merespons kebijakan AS pada 2018 dan 2019 yang menganggap langkahnya itu justru memunculkan adanya resesi global.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper