Bisnis.com, JAKARTA — Neraca perdagangan ekspor sektor non-migas Indonesia ke Amerika Serikat (AS) terus mengalami kenaikan dalam lima tahun terakhir. Akankah kebijakan tarif Donald Trump membuat ekspor RI ke AS mereda?
Melansir dari Satudata Kementerian Perdagangan (Kemendag), pada 2020 nilai ekspor non-migas Indonesia ke AS berada pada angka US$18,62 miliar atau Rp308,8 triliun.
Nilai ekspor naik menjadi US$25,79 miliar atau Rp427,1 triliun pada 2021, pun dengan 2022, dimana ekspor non-migas dari Tanah Air ke Negeri Paman Sam berada di angka US$28,18 miliar atau Rp466,6 miliar.
Penurunan ekspor sempat terjadi di 2023 menjadi US$23,23 miliar, sebelumnya akhirnya naik kembali pada 2024, dimana ekspor non-migas ke AS mencapai US$26,31 miliar atau Rp435,7 triliun.
Adapun ekspor non-migas dari Indonesia ke AS masih kalah dibandingkan jumlah ekspor dari Indonesia ke China.
Dari data yang disajikan oleh Kemendag, pada 2020 total ekspor non-migas Indonesia ke China berada diangkat US$29,93 miliar.
Baca Juga
Sementara itu pada 2021 total ekspor Indonesia ke China mencapai angka US$51 miliar.
Kenaikan terus terjadi hingga 2024, dimana total ekspor non-migas dari Tanah Air ke China mencapai US$60,22 miliar atau Rp997,2 triliun.
Tidak hanya China, jumlah ekspor Indonesia ke India juga mengalami kenaikan sedari lima tahun kebelakang.
Pada 2020, ekspor non-migas dari Indonesia ke India berada diangka US$10,17 miliar atau Rp168,56 triliun.
Angka ekspor tersebut mengalami kenaikan hampir 100% pada tahun 2024, dimana total ekspor non-migas dari Indonesia ke India mencapai angka US$20,32 miliar atau setara dengan Rp336,49 triliun.
Sebelumnya, Langkah PDonald Trump yang menetapkan tarif timbal balik sebesar 32% terhadap Indonesia berisiko mengakhiri surplus neraca perdagangan RI selama beberapa tahun terakhir.
Head of Research dari NH Korindo Sekuritas Indonesia Ezaridho Ibnutama menyatakan penetapan tarif terhitung sejak 2 April 2025. Di Asia Tenggara, tarif tersebut menjadi yang tertinggi setelah Vietnam sebesar 46% dan Thailand 36%.
“AS menyoroti berbagai hambatan perdagangan dan manipulasi mata uang Indonesia yang mencapai 64%. Ini merupakan tarif ketiga tertinggi di Asia Tenggara setelah Vietnam dan Thailand,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (3/4/2025).
Menurut Ezaridho, langkah Trump berisiko mengakhiri surplus neraca perdagangan Indonesia. Per Februari 2025, Indonesia surplus US$3,12 miliar karena didorong penurunan impor domestik akibat tekanan sosial yang semakin meningkat.
Capaian itu adalah surplus selama 58 bulan beruntun sejak Mei 2020. Akan tetapi, lebih rendah dibandingkan dengan surplus Januari 2025 yang mencapai US$3,45 miliar.
“Tarif baru dari Trump dapat mengakhiri surplus ini, terutama karena AS merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Indonesia,” ucap Ezaridho.
Dia menyatakan jika tidak ada negosiasi bilateral, maka nilai ekspor ke AS dapat terus menurun. Pada saat bersamaan, mitra dagang lain diperkirakan tidak akan mampu sepenuhnya mengimbangi hilangnya nilai ekspor ke AS.