Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Daftar Negara Penyumbang Defisit Terbesar ke AS yang Picu Tarif Trump, Indonesia Termasuk

Berikut daftar negara penyumbang defisit neraca perdagangan terbesar ke AS, Indonesia termasuk.
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah negara seperti China, Uni Eropa, Meksiko, Vietnam hingga Indonesia menjadi penyumbang defisit neraca perdagangan terbesar untuk Amerika Serikat (AS).

Artinya, nilai impor AS terhadap barang dan komoditas dari negara-negara tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai ekspornya.

Oleh sebab itu, Presiden AS Donald Trump akhirnya memberlakukan pengenaan tarif dasar 10% untuk semua produk impor ke Amerika Serikat (AS) dan bea masuk yang lebih tinggi untuk belasan mitra dagang terbesar di negara tersebut untuk mengurangi defisit.

Adapun, di kawasan Asia Tenggara, Vietnam mendapat tarif timbal balik "resiprokal" tertinggi 46%, sementara Indonesia 32%.

Kebijakan kontroversial yang diumumkan Trump di Rose Garden, Gedung Putih pada Rabu sore (2/4/2025) waktu setempat memperdalam perang dagang yang dia mulai saat dirinya kembali menjabat sebagai Presiden AS.

Bea masuk ini akan menimbulkan hambatan baru di negara dengan ekonomi konsumen terbesar di dunia ini, membalikkan liberalisasi perdagangan selama puluhan tahun yang telah membentuk tatanan global, dan menciptakan perang dagang baru.

Negara-negara yang menjadi mitra dagang AS diperkirakan akan merespons dengan "tindakan balasan" masing-masing yang dapat menyebabkan harga-harga melonjak untuk semua produk, mulai dari sepeda hingga wine. Saham-saham berjangka AS merosot setelah pengumuman Trump.

“Ini adalah deklarasi kemerdekaan kita,” kata Trump di Rose Garden, Gedung Putih, dilansir dari Reuters.

Dalam agenda tersebut, Trump memajang sebuah poster yang berisi daftar tarif timbal balik yang diterapkan AS kepada negara-negara mitra dagang. China mendapat tarif baru 34%, sementara Uni Eropa 20%. Pengenaan tarif resiprokal itu sebagai tanggapan atas bea masuk yang dikenakan pada barang-barang AS.

Adapun, Kamboja menjadi negara yang mendapat tarif tertinggi, yakni 49%. Posisi kedua diduduki Vietnam dengan 46%. Sri Lanka mendapat tarif resiprokal 44%, Bangladesh 37%, Thailand 36%, dan Taiwan 32%. Sementara itu, Indonesia menerima tarif resiprokal sebesar 32%.

Wakil Kepala Ekonom Global di Capital Economics, Simon MacAdam berpendapat bahwa target yang mungkin termasuk mitra dagang utama AS seperti China, Uni Eropa, dan Vietnam.

Mengacu data Federal, China menyumbang defisit perdagangan sebesar US$295,4 miliar terhadap AS, disusul Uni Eropa senilai US$235,6 miliar.

Selanjutnya, Meksiko menyumbang US$171,8 miliar diikuti Vietnam sebesar US$123,5 miliar. Adapun, Indonesia juga termasuk ke dalam negara penyumbang defisit terhadap AS senilai US$17,9 miliar.

Berikut Daftar Negara Penyumbang Defisit Perdagangan Terbesar ke AS per 2024:

1. China (US$295,4 miliar)

2. Uni Eropa (US$235,6 miliar)

3. Meksiko (US$171,8 miliar)

4. Vietnam (US$123,5 miliar)

5. Irlandia (US$86,7 miliar)

6. Jerman (US$84,8 miliar)

7. Taiwan (US$73,9 miliar)

8. Jepang (US$68,5 miliar)

9. Korea Selatan (US$66 miliar)

10. Kanada (US$63,3 miliar)

11. India (US$45,7 miliar)

12. Thailand (US$45,6 miliar)

13. Italia (US$44 miliar)

14. Swiss (US$38,5 miliar)

15. Malaysia (US$24,8 miliar)

16. Indonesia (US$17,9 miliar)

17. Prancis (US$16,4 miliar)

18. Austria (US$13,1 miliar)

19. Swedia (US$9,8 miliar)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper