Bisnis.com, JAKARTA – Analis menilai tren investasi global pada sektor pertambangan tembaga akan berfokus pada peningkatan produksi di negara-negara penghasil.
Hal ini tak lepas dari tambang tembaga di negara-negara penghasil terus menua tanpa tambang baru untuk menggantikannya. Oleh karena itu, proyek tembaga greenfield atau pertambangan di lokasi yang belum pernah dieksplorasi dirasa menjanjikan.
Merujuk analisis terbaru Wood Mackenzie menunjukkan pergeseran signifikan dalam strategi alokasi modal dalam sektor pertambangan tembaga. Menurut analisis itu, pergeseran tren investasi pada peningkatan produksi tembaga didorong oleh tiga faktor.
Pertama, meningkatnya persyaratan pengeluaran modal non-diskresioner. Kedua, kebutuhan berkelanjutan akan neraca yang kuat untuk menghadapi potensi volatilitas pasar. Ketiga, fokus yang berkembang pada tembaga untuk strategi pertumbuhan dan diversifikasi.
Analisis tersebut menyoroti bahwa pembelian kembali saham menjadi kurang menarik pada valuasi saat ini. Faktanya, pada 2024 ternyata menjadi titik terendah untuk volume pembelian kembali di antara perusahaan pertambangan besar, dengan pengembalian nosional turun ke level negatif bagi banyak perusahaan.
James Whiteside, Kepala bagian Korporat untuk Logam dan Pertambangan Wood Mackenzie, menyatakan, pembelian kembali saham tidak lagi menarik. Sebaliknya, peralihan investasi ke pertumbuhan produksi lebih menjanjikan.
Baca Juga
"Perusahaan-perusahaan yang terdiversifikasi yang mencari relevansi melalui pembayaran besar tidak diberi imbalan, tetapi menurut para penambang tembaga, berinvestasi dalam pertumbuhan produksi membuahkan hasil,” kata Whiteside dalam keterangannya dikutip Jumat (4/4/2025).
Menurutnya, proyek-proyek tembaga greenfield mulai menawarkan pengembalian yang paling menarik untuk investasi modal. Namun, tidak setiap perusahaan pertambangan memiliki jalur peluang pertumbuhan.
Wood Mackenzie memperkirakan bahwa perusahaan-perusahaan tembaga besar akan mempercepat upaya investasi ulang mereka selama tiga tahun ke depan, secara agregat melampaui 100% arus kas operasi mereka.
Whiteside menambahkan, bagi beberapa perusahaan, merangkul risiko yang berorientasi pada pertumbuhan sekarang menjadi strategi yang optimal.
"Analisis kami menunjukkan bahwa pertumbuhan pada komoditas yang tepat menguntungkan, sementara pembayaran variabel yang lebih tinggi tidak menguntungkan perusahaan yang berjuang untuk relevansi," katanya.
Apalagi, permintaan tembaga dari elektrifikasi diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Tingginya permintaan pun membuat harga tembaga mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada Mei 2024, yakni di atas angka US$5 per pon.
Whiteside menyimpulkan, perusahaan tambang memasuki era baru disiplin modal. Menurunnya, respons pasar terhadap pendekatan yang berbeda ini akan memengaruhi keputusan alokasi modal jangka panjang perusahaan tambang besar.
"Perusahaan yang dapat secara efektif menyeimbangkan investasi pertumbuhan dengan pengembalian pemegang saham kemungkinan akan muncul sebagai pemenang dalam lanskap yang berubah ini," ucapnya.