Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Vietnam melemah dalam dua hari terakhir menuju level terendah sejak Januari 2024 seiring dengan pengenaan tarif AS oleh Donald Trump.
Dilansir Bloomberg, Jumat (4/4/2025), indeks VN anjlok 5,8% pada perdagangan hari ini, dengan penurunan terbesar di antaranya pada saham Bank for Foreign Trade of Vietnam dan Bank for Investment and Development of Vietnam. Indeks saham tersebut sebelumnya merosot 7% pada Kamis setelah Vietnam dipukul dengan tarif 46%, salah satu yang tertinggi di Kawasan Asean.
"Harga-harga saham berada dalam tekanan, baik dari aktivitas margin call dari broker lokal maupun sentiment kepanikan dari investor ritel," ujar Nguyen Anh Duc, Kepala Perdagangan Institusi dan Penasehat Investasi di SBB Securities Corp.
Menurutnya, para investor saham menghadapi kerugian besar dalam waktu pendek dan beberapa di antaranya memilih keluar dari pasar saham untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Sebagai informasi, Vietnam merupakan produsen utama pakaian dan alas kaki, menjadikannya salah satu negara yang paling bergantung pada perdagangan di dunia.
Penerapan tarif oleh AS itu dilakukan pada saat Vietnam gencar promosi kepada perusahaan multinasional sebagai alternatif China dalam pembuatan segala hal mulai dari gadget hingga semikonduktor dasar.
Baca Juga
AS adalah pasar ekspor terbesar Vietnam dan pungutan tersebut dapat menghambat tujuan ambisius Vietnam untuk meningkatkan pertumbuhan hingga setidaknya 8% pada tahun ini.
Saham garmen dan tekstil memperpanjang kerugian, dengan Thanh Cong Textile Garment Investment Trading, Song Hong Garment Joint Stock Company, dan Sao Ta Foods turun hingga batas harian 7%.
Arus keluar juga memberikan tekanan setelah manajer investasi global menjual saham Vietnam selama delapan minggu berturut-turut, sehingga penarikan sejauh ini tahun ini menjadi sekitar $1,2 miliar, data yang dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan. Mereka menjual saham lokal senilai $142 juta pada hari Kamis, yang merupakan jumlah terbesar sejak 29 Oktober.