Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berharap momen Lebaran bisa meningkatkan daya beli masyarakat sehingga berdampak positif ke pertumbuhan ekonomi. Namun, terindikasi tak ada peningkatan signifikan atau bahkan terjadi anomali ekonomi saat momen Lebaran 2025.
Secara historis, konsumsi masyarakat memang kerap meningkatkan pada momen Hari Raya Idulfitri. Dalam tiga tahun terakhir misalnya, secara kuartalan tahun tersebut pertumbuhan konsumsi rumah tangga terbesar selalu terjadi pada momen Lebaran yaitu kuartal II/2024 (4,93%), kuartal II/2023 (5,22%) dan kuartal II/2022 (5,52%).
Pada tahun ini, momen Lebaran bergeser ke kuartal I. Oleh sebab itu, tak berlebihan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini pergerakan mudik Lebaran akan mendongkrak perekonomian pada kuartal I/2025.
Oleh sebab itu, sambungnya, pemerintah juga menggelar sejumlah program untuk mendongkrak daya beli masyarakat pada momen Lebaran seperti diskon tarif tol, tiket pesawat, hingga hari belanja online nasional (Harbolnas).
"Plus dengan THR dan yang lain, kami berharap dengan pengungkit ini [pertumbuhan ekonomi] bisa terdorong," jelas Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (27/3/2025).
Bank Syariah Indonesia (BSI) Institute memproyeksikan perputaran uang mencapai Rp1.024,97 triliun selama momen Ramadan 2025. Angka tersebut diambil usai BSI Institute melakukan survei terhadap 3.029 responden individual yang tersebar di sepuluh wilayah di Indonesia.
Baca Juga
"Angka yang tentunya tidak sedikit di tengah kondisi ekonomi saat ini," ujar Peneliti Senior BSI Institute Priyesta Rizkiningsih dalam laporan BSI Institute Quarterly Volume I 2025, dikutip Senin (31/3/2025).
Survei Bank Syariah Indonesia (BSI) Institute menanyakan pola perilaku individu dalam mempersiapkan bulan Ramadan. Hasilnya, 64,75% responden mengaku menambah pengeluaran untuk bulan Ramadan, dengan mayoritas alokasi tambahan sebesar Rp1 juta sampai dengan Rp3 juta.
BSI Institute memperkirakan sebanyak 112,10 juta penduduk Muslim mengalokasikan tambahan pengeluaran sebesar Rp1-3 juta selama Ramadan 2025. Proyeksi perputaran uang dari tambahan pengeluaran tersebut adalah sebesar Rp303,19 triliun.
Pusat Perbelanjaan Sepi Peminat
Secara tradisional, peningkatan konsumsi akan terlihat dari pengunjung di pusat perbelanjaan. Apalagi, pusat perbelanjaan kerap menjadi salah satu destinasi utama saat libur Lebaran.
Hanya saja, peningkatan konsumsi tersebut tidak dirasakan oleh para pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Destiana (20), karyawan di salah satu toko penjual pakaian perempuan hingga anak di Lantai 1 Blok C Central Tanah Abang, mengungkapkan terjadi penurunan penjualan sekitar 50% pada Lebaran tahun ini dibandingkan Lebaran tahun lalu.
Perempuan yang sudah berdagang di Tanah Abang sejak 2023 itu mengaku kini omzet kotor tokonya rata-rata Rp10 juta per hari. Menurutnya, penurunan pengunjung di Pasar Tanah Abang sudah mulai terjadi sejak Agustus 2024.
Senada, penurunan omzet juga dialami Rendi (21), salah satu karyawan di toko penjual kerudung di Jembatan Penyeberangan Multiguna Tanah Abang.
Dia tidak menampik bahwa terjadi peningkatan pengunjung jelang Lebaran kali ini. Hanya saja, peningkatannya tidak sesignifikan tahun lalu.
"Mendingan [Lebaran] tahun kemarin. Kalau tahun sekarang turun," ungkap Rendi saat ditemui di kiosnya, Jumat (23/3/2025).
Padahal, sambungnya, omzet rata-rata per hari jelang Lebaran 2024 bisa mencapai Rp4 juta, tetapi kini sekitar Rp1 juta.
Indikasi penurunan pengunjung juga tampak di pusat perbelanjaan yang lebih modern seperti Blok M Plaza. Sendi Prasetyo, salah satu karyawan di Blok M Plaza, mengaku volume pengunjung pada momen Lebaran 2025 tidak sebanding dengan momen Lebaran 2024.
"Tahun lalu lebih ramai. Sekarang enggak begitu ramai," ujar Sendi saat ditemui di Blok M Plaza, Senin (31/3/2025).
Dia memperkirakan ada penurunan sekitar 30%. Padahal, apabila sedang ramai, jumlah pengunjung Blok M Plaza tidak kurang dari 10.000 dalam sehari.
Menurutnya, penurunan pengunjung sudah terjadi sejak dua hari lalu. Dia mengasumsikan banyaknya penduduk Jakarta yang mudik ke kampung halaman menjadi penyebab penurunan volume pengunjung Blok M Plaza.
Kendati demikian, pria yang sudah lima tahun bekerja di Blok M Plaza itu tidak menampik bahwa anomali penurunan pengunjung saat Lebaran baru terjadi pada tahun ini. Sejak pandemi Covid-19 usai, Sendi mengaku pengunjung Blok M Plaza selalu lebih ramai saat Lebaran daripada hari-hari biasa.
Sementara itu, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyampaikan tingkat kunjungan atau okupansi mal di Indonesia mengalami peningkatan sebesar 10% selama libur Idulfitri 1446 Hijriah atau Lebaran 2025.
Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menyampaikan meski dihadapkan isu pelemahan daya beli, pusat belanja tetap ramai pengunjung di momen libur Idulfitri atau Lebaran 2025. Sayangnya, Alphonzus tidak menjelaskan secara perinci jumlah pengunjung di seluruh pusat perbelanjaan di Indonesia.
“Rata-rata tingkat kunjungan ke Pusat Perbelanjaan selama Ramadan dan Idulfitri 2025 ini meningkat kurang lebih hanya sekitar 10% saja dibandingkan dengan 2024 yang lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (1/4/2025).
Daya Beli Masyarakat Lemah
Lantas, mengapa pusat perbelanjaan tidak menggeliat pada momen Lebaran 2025?
Dalam publikasi bertajuk Awas Anomali Konsumsi Jelang Lebaran 2025, Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai terjadi pelemahanan daya beli jelang Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah. Penyebabnya, pendapatan kelompok rumah tangga kelas menengah dan menengah ke bawah sedang tertekan.
Core mencontohkan terjadi PHK massal di sektor manufaktur menjelang lebaran 2025 seperti yang terjadi kepada 10.655 buruh di PT Sri Rejeki Isman (Sritex). Selain fenomena PHK besar-besaran, sulitnya mencari pekerjaan yang layak bagi pekerja kerah putih juga menjadi sebab menurunnya pendapatan dari yang selayaknya diterima.
"Melambatnya pertumbuhan upah riil di sektor industri, perdagangan, pertanian, dan jasa lainnya menambah beban rumah tangga pekerja," tulis Core dalam publikasinya, dikutip Sabtu (29/3/2025).
Mengolah data Badan Pusat Statistik, Core mengungkapkan upah sektor industri manufaktur terkontraksi 0,7% pada 2024. Padahal, pada 2022 dan 2023, upah riil pekerja manufaktur masih tumbuh rata-rata 5,6%.
Hasil studi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menambahkan efisiensi anggaran oleh pemerintah Presiden Prabowo Subianto juga diproyeksikan berkontribusi menekan lonjakan konsumsi selama Lebaran tahun ini.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menjelaskan studi tersebut menggunakan perhitungan model computable general equilibrium (CGE). Indef mencoba membandingkan data dampak mudik ke perekonomian pada tahun lalu dengan tahun ini di tengah efisiensi anggaran belanja negara.
Hasilnya, tingkat konsumsi rumah tangga di semua provinsi akan turun pada Lebaran kali ini akibat efisiensi anggaran. Penurunan terbesar terjadi di Banten yang mencapai 1,4%.
"Artinya apa? Artinya bahwa hampir setiap daerah konsumsinya tertahan," ujar Rizal dalam diskusi daring Indef, Rabu (19/3/2025).
Dia menilai penurunan konsumsi rumah tangga tersebut disebabkan utamanya karena dana transfer ke daerah senilai Rp50,59 triliun terkena efisiensi anggaran. Akibatnya, peredaran uang di daerah akan terpengaruh secara negatif.
Dari hasil perhitungan Indef, provinsi-provinsi di Pulau Jawa yang paling besar mengalami penurunan tingkat konsumsi rumah tangga. Masalahnya, sambung Rizal, hampir dua pertiga penduduk Indonesia ada di Jawa.
"Ini pasti berpengaruh ke [angka] agregat konsumsi nanti," katanya.
Secara tahunan, Indef memperkirakan konsumsi rumah tangga akan turun 0,814% akibat efisiensi anggaran tersebut.