Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsumsi Rumah Tangga Diramal Hanya 4,75% Kuartal I/2025, Daya Beli Melemah

Indef melihat indikasi daya beli yang melemah tercermin dari konsumsi rumah tangga yang melambat.
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar yang terendam banjir di Jakarta, Senin (13/1). bisnis/Nurul Hidayat
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar yang terendam banjir di Jakarta, Senin (13/1). bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memperkirakan laju konsumsi rumah tangga tak mampu mencapai angka 5% pada kuartal I/2025.

Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto mengatakan adanya indikasi daya beli yang melemah tercermin dari konsumsi rumah tangga yang melambat.

Eko memperkirakan laju konsumsi rumah tangga hanya akan tumbuh satu digit atau sebesar 4,75% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I/2025.

“Kemungkinan pelemahan daya beli ini akan terefleksi dari pertumbuhan laju konsumsi rumah tangga yang akan melambat,” kata Eko kepada Bisnis, dikutip pada Kamis (27/3/2025).

Di sisi lain, Eko menyebut bahwa pemerintah telah mengeluarkan sejumlah insentif jangka pendek untuk mendorong daya beli masyarakat, seperti diskon listrik, diskon tarif tol, serta harga tiket pesawat. Namun, sambung dia, sederet insentif ini hanya bersifat sementara.

“Ke depan yang meskipun insentif ini masih diperlukan tetapi lama-lama APBN berisiko juga, apalagi penerimaan negara turun,” tuturnya.

Untuk itu, menurutnya, pemerintah harus memperbaiki optimisme ekonomi dengan target yang realistis hingga melakukan pemberantasan pungli dan premanisme di kawasan industri agar investor mau masuk. Sehingga, dari investasi di industri tercipta lapangan kerja yang akan mendorong daya beli masyarakat.

Dihubungi terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani menuturkan bahwa lebaran tahun ini masih dibayang-bayangi sentimen daya beli.

Padahal, Shinta menyebut momentum lebaran selalu menjadi salah satu pendorong penting dunia usaha bagi sektor ritel, pariwisata, akomodasi, makanan dan minuman (mamin), serta transportasi.

Hal ini mengingat, aktivitas mudik yang melibatkan ratusan juta masyarakat dari berbagai daerah biasanya memberikan efek berantai terhadap sektor-sektor tersebut.

Di samping itu, lanjut dia, Lebaran merupakan periode musiman yang selalu diharapkan oleh pelaku usaha untuk dapat meningkatkan bisnisnya, sekaligus momentum yang diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat.

Selain itu, perputaran uang selama periode lebaran biasanya cenderung meningkat dibandingkan bulan-bulan biasa, seiring dengan naiknya aktivitas belanja masyarakat, perjalanan wisata, dan konsumsi barang serta jasa. Sayangnya, Apindo melihat kondisi yang berbeda pada Lebaran tahun ini.

“Namun, kami melihat lebaran tahun ini masih dibayang-bayangi sentimen daya beli masyarakat yang masih belum sepenuhnya pulih sejak akhir tahun lalu,” kata Shinta kepada Bisnis.

Di samping itu, Apindo juga mencermati data terbaru Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang memperkirakan sebanyak 146,48 juta orang akan melakukan perjalanan selama Libur Lebaran 2025. Angka proyeksi ini turun 24,33% dibandingkan survei tahun lalu yang mencatat 193,6 juta pemudik.

“Sehingga, meskipun periode lebaran biasanya terjadi peningkatan konsumsi masyarakat, kami mencermati bahwa peningkatan konsumsi tahun ini berpotensi tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya,” terangnya.

Shinta menyebut banyak pelaku usaha mulai mengoptimalkan efisiensi operasional dan menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di tengah persaingan pasar.

Maka dari itu, Apindo meminta pemerintah untuk terus melakukan upaya penguatan pasar domestik dan daya beli masyarakat agar industri tetap memiliki penopang pertumbuhan yang solid di tengah ketidakpastian global.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rika Anggraeni
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper