Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Thailand Siap Negosiasi dengan AS, Cari Solusi atas Tarif Trump 36%

Thailand berupaya menggelar pembicaraan dengan AS guna mencari solusi atas tarif 36% yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg
Presiden AS Donald Trump menunjukkan perintah eksekutif yang telah ditandatangani saat pengumuman tarif di Rose Garden, Gedung Putih, Washington, DC, AS, pada hari Rabu (2/4/2025). Trump memberlakukan tarif pada mitra dagang AS di seluruh dunia, serangan terbesarnya terhadap sistem ekonomi global yang telah lama dianggapnya tidak adil. Fotografer: Jim Lo Scalo / EPA / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Thailand berupaya menggelar pembicaraan dengan AS guna mencari solusi atas tarif 36% yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump, demikian pernyataan Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra.

Melansir Bloomberg, Kamis (3/4/2025), Paetongtarn mengatakan Kementerian Keuangan dan Perdagangan Thailand akan menyusun strategi untuk melindungi industri dan eksportir Thailand dari dampak kebijakan ini. Pemerintah juga telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi guna membantu eksportir yang bergantung pada pasar AS.

"Thailand telah menyatakan kesiapannya untuk berdialog dengan pemerintah AS sesegera mungkin guna menyeimbangkan perdagangan secara adil bagi kedua negara," katanya.

Ia juga mendorong pelaku usaha Thailand mencari pasar alternatif guna mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Dagang AS, surplus neraca perdagangan Thailand dengan AS mencapai US$45 miliar pada 2024. Sebelum kebijakan tarif diumumkan, Thailand telah mengambil sikap wait and see serta berjanji meningkatkan impor energi dan pangan guna mempersempit surplus tersebut.

AS merupakan tujuan ekspor terbesar Thailand, dengan produk unggulan seperti elektronik, mesin, dan hasil pertanian.

Kebijakan tarif ini memicu pelemahan pasar saham dan mata uang baht Thailand, di tengah kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian negara yang sangat bergantung pada ekspor.

Ekspor barang menyumbang hampir dua pertiga dari total PDB Thailand yang bernilai sekitar US$520 miliar.

Paetongtarn menegaskan bahwa tarif rata-rata Thailand terhadap produk AS hanya 9%, dan ia menduga AS juga mempertimbangkan hambatan non-tarif dalam mengambil keputusan ini.

Sebelum Trump menjabat, pemerintah Thailand telah membentuk panel khusus untuk menyiapkan proposal penyesuaian neraca perdagangan dengan AS. Usulan ini, menurut Paetongtarn, cukup substansial untuk menarik Washington ke meja perundingan dengan dampak minimal bagi petani, konsumen, dan pelaku usaha lokal.

Ia juga melihat momentum ini sebagai peluang bagi Thailand untuk merombak struktur produksi, menekan biaya, serta meningkatkan daya saing industri dalam jangka panjang. Selain itu, Thailand berpotensi menjadi bagian dari strategi "friendshoring" AS dengan mengimpor bahan baku pertanian untuk diproses dan diekspor kembali.

Sebagai produsen utama hard disk dan komponen elektronik yang digunakan dalam pusat data dan infrastruktur AI, Thailand juga berpeluang memperluas kerja sama dengan AS di sektor teknologi. Namun, saham perusahaan elektronik seperti Delta Electronics dan Cal-Comp Electronics anjlok di pasar saham Thailand pada Kamis.

Meski demikian, sektor swasta Thailand tetap tenang dan meminta pemerintah segera mencari solusi diplomatik.

Ketua Kamar Dagang Thailand Poj Aramwattananont mengatakan pelaku usaha tidak perlu panik dalam menanggapi tarif Trump karena negara lain juga menghadapi tarif lebih tinggi.

"AS juga akan terdampak, karena mereka belum mampu menggantikan impor dengan produksi dalam negeri dalam waktu dekat,” jelasnya seperti dikutip Bloomberg.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper