Bisnis.com, JAKARTA — Peniliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) dan Dosen Ekonomi Internasional FEB UI Kiki Verico mengkhawatirkan perang tarif Trump 2.0 akan memberikan efek negatif di Indonesia, khususnya sektor makanan dan minuman.
Pasalnya pada 2017 lalu saat Trump 1.0, Kiki melakukan simulasi dan menunjukkan bahwa sektor tesktil akan tertekan dan kontraksi sebagai akibat dari penerapan tarif ke China.
Faktanya, pada 2018 sektor tekstil yang berisi pekerja formal dan padat karya terpantau mulai mengalami penurunan jumlah perusahaan maupun jumlah pekerja yang terus berlanjut dan memberikan efek penurunan jumlah kelas menengah.
“Saya punya kekhawatiran kalau Trump 2.0 mungkin tidak hanya berdampak pada tekstil, tetapi juga pada process food atau FnB, berarti yang kena bukan hanya labor, tetapi juga bussiness owner,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Badan Anggaran (Banggar), Rabu (26/2/2025).
Mengacu penelitiannya terbaru, dari beragam sektor di Indonesia, sektor process food dan textile apparelmenunjukkan adanya kontraksi sebagai akibat dari perang dagang yang Trump lakukan.
Meski demikian, dirinya tidak menyebutkan seberapa besar kontraksi yang akan dialami oleh sektor-sektor tersebut.
Baca Juga
Berkaca pada 2017 lalu saat Donald Trump menutup pintu impor tekstil dari China menggunakan tarif, AS sukses membuat pabrik tekstil dengan teknologi 3D printing yang tidak membutuhkan pekerja alis mengandalkan mesin.
Sementara untuk kali ini, dengan semua yang direncanakan Trump melalui berbagai tarif, Kiki menyebutkan seluruh ekonom internasional pun belum dapat membaca arah kebijakan Trump.
“Saya tidak tahu apa yang dilakukan AS, tetapi yang saya hitung kita harus hati-hati untuk FnB karena ini sektor yang punya pekerja banyak. Saya enggak tahu apa yang akan terjadi, tapi dari simulasi yang saya lakukan, harus waspada,” ungkapnya.
Maka dari itu, Kiki menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja sektor formal menjadi paling utama bagi pemerintah Indonesia untuk mempertahankan ekonominya.
Sekalipun terdapat potensi relokasi perusahaan asing ke dalam negeri, hal tersebut dapat menjadi keuntungan dan kewaspadaan baru.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menuturkan bahwa relokasi akan berpotensi mengerek pertumbuhan ekonomi sebesar 0,8%, sepanjang investasi dan ekspor naik.
“Relokasi saat Trump 1.0, paling banyak mendapatkan relokasi ke Meksiko, Korea Selatan, Vietnam, Taiwan. Indonesia ada tapi kecil,” ujarnya.
Untuk itu, dirinya berharap pemerintah dapat memaksimalkan kesempatan tersebut untuk dapat meningkatkan ekonomi.
Meski demikian, pada Trump 2.0, nyatanya negara-negara yang menjadi ‘kepanjangan tangan China’ menjadi lokasi relokasi kini menjadi sasaran tarif tinggi dari Trump.