Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba menyebut kebijakan tarif impor yang diberlakukan AS sebagai “krisis nasional” saat Jepang bersiap menghadapi dampak ekonomi yang semakin memburuk.
Melansir Bloomberg, Jumat (4/4/2025), pernyataan ini disampaikan menjelang pertemuan darurat dengan pemimpin oposisi untuk menyusun langkah strategis menghadapi kebijakan proteksionis Washington.
Bursa saham Jepang terjun bebas untuk hari kedua berturut-turut, sementara imbal hasil obligasi pemerintah anjlok seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap perekonomian.
Kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif 24% untuk semua impor Jepang mengejutkan pasar dan memaksa Bank of Japan (BOJ) turun tangan untuk menenangkan gejolak keuangan.
“Ini adalah situasi yang layak disebut krisis nasional,” tegas Ishiba di parlemen. Ia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan serangkaian langkah balasan, termasuk menerapkan tarif pembalasan atau membawa sengketa ini ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Ishiba juga mengaku bingung dengan dasar perhitungan tarif AS yang dianggapnya tidak masuk akal, mengingat Jepang adalah sekutu utama dan investor terbesar bagi ekonomi Amerika.
Baca Juga
Di lingkungan Partai Demokrat Liberal (LDP), diskusi pagi ini berfokus pada upaya melindungi industri dan lapangan kerja domestik. Namun, upaya lobi pemerintah untuk mendapatkan pengecualian tarif dari AS sejauh ini belum membuahkan hasil.
Menurut laporan Asahi, pemerintah Jepang sedang menyiapkan langkah-langkah ekonomi untuk membantu dunia usaha dan rumah tangga mengatasi dampak kebijakan tarif ini. Jika diperlukan, Ishiba diperkirakan akan menginstruksikan penyusunan anggaran tambahan pada akhir bulan untuk mendukung paket stimulus ekonomi.
Sementara itu, langkah BOJ untuk menormalkan kebijakan moneter kini dipertanyakan, mengingat dampak tarif yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau data ekonomi dan menyesuaikan kebijakan guna mencapai target inflasi 2%.
"Kami akan mengkaji berbagai data dan informasi lain yang tersedia pada setiap pertemuan kebijakan," kata Ueda.
Di tengah ketidakpastian ini, pasar keuangan terus bergejolak. Imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang turun ke level terendah sejak Januari, sementara yen relatif stabil setelah melonjak lebih dari 2% sehari sebelumnya.